Tarif kereta api komersial sifatnya fluktuatif menyesuaikan dengan demand dari pelanggan

0
115

Meski demikian, VP Public Relations KAI, Joni Martinus, mengungkapkan tiket kereta api memang bisa naik atau turun. Ia merasa saat ini harga tiket juga masih sesuai.
“Tarif kereta api komersial sifatnya fluktuatif menyesuaikan dengan demand dari pelanggan. Tarifnya juga kami pastikan selalu berada dalam Tarif Batas Bawah (TBB) dan Tarif Batas Atas (TBA) yang telah ditetapkan,” kata Joni saat dihubungi, Jumat (6/1).
“Adapun untuk kereta api yang sifatnya PSO atau mendapatkan Public Service Obligation, tarifnya selalu tetap sesuai dengan tarif yang telah ditentukan oleh pemerintah,” tambahnya.
Sri Mulyani Sulap Gedung Tua Daendels Jadi Estetik dan Instagramable
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sudah menyelesaikan renovasi Gedung AA Maramis atau yang lebih dikenal sebagai Gedung Daendels. Pembenahan gedung seluas 12.000 meter persegi itu membutuhkan dana hingga Rp 300 miliar dan waktu selama tiga tahun.
Dalam hal ini Kemenkeu menunjukkan tidak hanya menjalankan tugas dan fungsinya di bidang keuangan dan kekayaan negara, tapi juga berpartisipasi dalam pelestarian bangunan cagar budaya di Indonesia.
Langkah tersebut sejalan dengan dokter anak amanat Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan dan memanfaatkannya.
Dalam renovasi Gedung Daendels ini, Kemenkeu setidaknya masih mempertahankan pemanfaatan bangunan cagar budaya untuk menunjang pelaksanaan tugas dan fungsinya. Hal tersebut bertujuan untuk mempertahankan keberadaan bangunan peninggalan Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menceritakan bahwa gedung monumental ini dibangun pada 7 Maret 1809 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels untuk memindahkan istana Batavia yang mulai kumuh di muara Sungai Ciliwung ke wilayah pusat ibu kota baru Weltevreden. Namun, proses pembangunan baru selesai pada 1828.
“Terus terang ini gedung yang renovasinya membutuhkan waktu 3 tahun, karena terkendala pandemi COVID-19 juga. Tapi kalau tadi Pak Heru bilang pembangunannya dari 1.809, selesai 1.828. Jadi bangunnya juga lama banget, ini semuanya asli,” ujar Sri Mulyani dalam acara Apresiasi Media Nagara Dana Rakca, Jumat (6/1).
Mengutip dari Kemenkeu, Sabtu (7/1), pada tahun 1828 bangunan ini diresmikan oleh Komisaris Jenderal L.P.J Du Bus de Ghisignies, namun karena keterbatasan biaya bangunan tidak dipergunakan sebagai istana melainkan sebagai kantor besar urusan keuangan Negara dan instansi pemerintah penting lainnya.
Sejak tahun 1828 sampai 1942 dan berlanjut di zaman kekuasaan Jepang di Indonesia antara tahun 1942-1945 serta zaman NICA tahun 1945-1949, akhirnya gedung tersebut diserahkan kepada Negara Republik Indonesia di tahun 1950 dan dilanjutkan pemanfaatannya sebagai kantor Kementerian Keuangan RI dengan Menteri Keuangan pertamanya yaitu A.A. Maramis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here